Monday, June 27, 2005

Teori Medium


Oleh : Fajar Junaedi S.Sos, M.Si
(Staf Pengajar Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, e-mail/friendster di
my_fajarjun@plasa.com)

Marshall McLuhan merupakan teoritisi yang paling berpengaruh dalam kajian mengenai pentingnya media dalam peradaban kehidupan manusia. Ia dikenal secara luasa dalam studi kebudayaan populer (popular culture), selain itu ia mendapat perhatian karena pemikiran-pemikirannya brilian mengenai kemajuan komunikasi massa kontemporer. Meskipun keistemewaan teori yang diutarakan oleh McLuhan dalam kajian komununikasi massa dewasa ini tidak lagi menjadi acuan, tesis yang dikemukakannya umumnya telah mendapat pengakuan yang sangat luas serta masih relevan digunakan sebagai alat analisis dalam memahami komunikasi massa. Menurutnya media terpisah dari apapun kandungan yang disebarkan, mempengaruhi individu-individu dalam masyarakat, atau yang kemudian lazim dinamakan sebagai teori medium (Littlejohn, 1996 : 326).

McLuhan bukanlah peneliti komunikasi massa yang pertama menulis tentang pemikiran ini. Malahan, ide-idenya yang saat ini banyak dirujuk dalam kajian komunikasi massa, sangat dipengaruhi oleh pemikiran dari Harold Adams Innis. Innis menyatakan bahwa media komunikasi adalah intisari dari peradaban dan bahwa jalannya roda sejarah adalah diarahkan oleh media dominan pada tiap masa (Littlejohn, 1996 : 326). Sebelum muncul MTV misalnya, para artis yang ingin tenar di seluruh jagad hanya cukup membuat rekaman, tampil di konser dan sering muncul di pemberitaan, namun setelah MTV semakin menglobal, para artis harus membuat video klip yang diputar terus menerus di MTV agar menjadi terkenal. Tanpa menjadi bagian MTV mustahil rasanya untuk dapat meraih ketenaran.

Bagi McLuhan dan Innis, media adalah perpanjangan dari pikiran manusia, sehingga kepentingan utama dari periode sejarah manapun ditentukan oleh media dominan yang digunakan. Dengan kata lain, apa yang terjadi dan apa yang mungkin berpengaruh dalam periode sejarah ditentukan oleh media (Littlejohn, 1996 : 326). Media dianalogikan sebagai berikut : berat seperti gerabah, liat ataupun batu adalah berlanjut dan maka dari itu terikat waktu. Karena mereka memfasilitasi komunikasi dari satu generasi ke generasi lainnya, media ini dipengaruhi oleh tradisi. Sebaliknya, media terikat tempat seperti kertas adalah ringan dan mudah untuk dipindahkan, sehingga media mampu memfasilitasi komunikasi dari satu tempat ke tempat lain.

Sebelum mesin cetak ditemukan oleh Johannes Guttenberg di abad pertengahan, masyarakat lebih menekankan pada komunikasi yang berorientasi pada indra pendengaran, yang dekat secara emosional dan interpersonal. Bagi masyarakat suku-suku tradisional prinsip “mendengar adalah mempercayai” lebih ditekankan dalam kehidupan mereka. Namun penemuan mesin cetak mengubah semua itu. Abad Gutenberg membawa rasio pemikiran, yang didominasi oleh indra penglihatan. Timbulnya percetakan, yang terutama terjadi secara massif dalam khasanah budaya Barat, memaksa individu untuki lebih menekankan kepada persepsi yang sifatnya linier, logis, kategoris bukan lagi emosional dan interpersonal.

Teknologi elektronika telah membawa kembali suatu dominasi aural atau pendengaran. Teknologi percetakan Gutenberg menciptakan ledakan dalam masyarakat, memisahkan dan mensegmentasi individu dari masyarakat, namun abad elektronik telah membuat penyatuan kembali, menyatukan dunia kembali satu dalam “perkampungan global”. Hasilnya, “teknologi komunikasi baru memaksa kita untuk meninjau ulang dan mengevaluasi ulang semua pemikiran, semua tindakan, dan semua lembaga yang sebelumnya diabaikan. Jika kalau McLuhan saat ini masih hidup, apakah yang mungkin dapat ia katakan tentang internet yang saat ini menggurita baik di perkantoran, kampus, rumah pribadi ataupun warnet ?

Donald Ellis membuat suatu ringkasan dari berbagai pandangan mengenai teori medium dan serempak ia juga membuat satu proposisi menarik yang mampu mewakili cara pandang kontemporer mengenai subjek kajian ini. Dengan mengamini Innis dan McLuhan, Ellis menyatakan bahwa keberadaan media dominan pada waktu tertentu akan membentuk perilaku dan pemikiran masyarakat bersangkutan. Sejalan dengan berubahnya media, begitu juga cara kita berpikir, mengolah informasi, dan menghubungkan satu dengan yang lain. Ada perbedaan yang tajam dalam perubahan sosial dalam masyarakat yang disebabkan oleh bagaimana masyarakat memilih cara komunikasi tertentu melalui media oral, tertulis atau elektronik.

Komunikasi oral yang bersifat verbal memiliki keunikan yaitu sangat mengesankan dan organik. Pesan oral secara cepat dan berlangsung singkat, sehingga individu-individu dan kelompok harus menyimpan informasi di alam pikiran mereka dan meneruskannya melalui pembicaraan. Karena pengalaman sehari-hari tidak dapat benar-benar dipisahkan dari transmisi media oral, kehidupan dan pengetahuan tidak dapat dipisahkan. Penceritaan dan penceritaan kembali cerita naratif bebas terhadap waktu sebagai suatu bentuk komunikasi memerlukan memori kelompok sebagai “penyimpan” pengetahuan masyarakat. Ini dapat membawa kepada kesadaran kolektif dimana pembedaan yang kecil dibuat antara diri sendiri dan kelompok. Pengidentitasan kelompok dan keterikatan menjadi tinggi ketika media oral mendominasi.

Perubahan besar gelombang ketiga terjadi ketika media elektronik berhasil ditemukan dan dikembangkan secara revolusioner. Perubahan besar ini dapat diuraikan sebagai berikut, media elektronik adalah sesuatu yang seperti oralitas di mana ia juga cepat dan berlangsung singkat, namun ia tidak terikat pada tempat khusus karena ia dapat disiarkan. Inilah yang selanjutnya menjadi keunikan media elektronik karena media ini mampu memadukan komunikasi oral dan komunikasi tulisan. Media elektronik memperpanjang persepsi kita melebihi tempat kita pada waktu tertentu, menciptakan “perkampungan global” (global village). Pada waktu yang sama, seperti media cetak, media elektronik memungkinkan penyimpanan informasi. Karena ia lebih siap pakai daripada media cetak, media elektronik menciptakan ledakan informasi, dan kompetisi yang sangat besar terjadi antar berbagai media untuk didengar dan dilihat. Informasi dalam media elektronik adalah solid seperti komoditas, yang menciptakan tekanan pada informasi agar menarik. Pengetahuan dalam abad media elektronik berubah sangat cepat, dan kita, terutama yang menjadi public figure, menjadi semakin waspada terhadap beragam versi yang berbeda dari suatu realitas tertentu. Perubahan yang konstan yang diciptakan dari media elektronik dapat membuat kita menjadi bingung dan mungkin tidak tenang. Berita artis ditayangan infotainment yang banyak disiarkan oleh berbagai stasiun televisi di Indonesia dapat menunjukan fenomena ini. Para artis yang diliput di acara infotainment saling menyangkal isu miring yang menerpa mereka, bahkan mereka pun kemudian merasa privasi mereka terganggu oleh kru infotainment yang memburunya, seperti yang terjadi pada Parto, seorang anggota grup lawak terkenal Patrio, yang menembakan pistol ke udara karena merasa terganggu oleh kru infotainemt di bulan Agustus tahun 2004.

Jika oralitas menciptakan suatu kebudayaan komunitas dan peradaban tulisan menciptakan kebudayaan kelas, maka komunikasi elektronik menciptakan suatu kebudayaan “sel,” atau kelompok-kelompok yang saling diadu untuk meningkatkan ketertarikan khusus mereka. Suatu bentuk publik baru yang tidak terikat tempat tercipta. Politik kepentingan mendominasi, dan demokrasi, bersama dengan nilai-nilai kesopanan dari pengikutnya, menganggap sesuatu yang penting sebagai suatu cara untuk mengolah perbedaan. Tapi, ironisnya, kompetisi dan ekonomi berbasis komoditas yang datang seiring perkembangan media elektronik melawan nilai-nilai yang sama yang paling dibutuhkan di lingkungan ini yaitu kesopanan dan saling menghargai. Munculnya beragam demo mengecam pornografi di media televisi menjelang bulan Ramadhan tahun 2004, seperti acara komedi Nah Ini Dia yang ditayangkan SCTV, Layar Tancap yang ditayangkan Lativi setiap malam minggu, dialog tengah malam yang acap diwarnai tema seks secara vulgar dan sebagainya, menandai beradunya nilai-nilai baru yang dibawa media elektronik dengan norma kesopanan dalam alam dunia Timur.

Jika kita merupakan anggota dari budaya yang didominasi oral, maka perbedaan yang ada dalam masyarakat dapat terminimalisir, dan keputusan akan diambil secara bersama melalui konsensus dengan berdasar pada kebijaksanaan (wisdom) tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Berbeda sekali jika kita merupakan anggota dari suatu masyarakat yang budayanya lebih berorientasi pada media cetak, maka keputusan terhadap masalah yang terjadi dalam masyarakat akan banyak dipengaruhi oleh “kenyataan” yang tersimpan dalam dokumen, dan kelas-kelas tertentu dalam masyarakat yang mempunyai akses ke informasi akan memegang pengaruh yang besar di dalam pembuatan keputusan masyarakat. Berbeda lagi tatkala kita diandaikan sebagai anggota masyarakat yang kebudayaannya banyak bertumpu pada media elektronik di mana kita mengidentitaskan dengan kelompok-kelompok kepentingan yang bersaing satu sama lain. Dalam kondisi sepeti ini kita memperoleh beragam suara, menyatukannya dengan cara yang sama, dan membuat suatu bentuk keputusan berkaitan masalah bersama dengan mengakomodir sebanyak mungkin kepentingan.

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home