Monday, June 27, 2005

Berkenalan dengan Komunikasi Massa

Oleh : Fajar Junaedi S.Sos, M.Si
(Staf Pengajar Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, e-mail/friendster di my_fajarjun@plasa.com)

"I don't question our existance..I just question our modern needs..(Pearl Jam, Garden)


Ketika Sukma Ayu, artis muda berbakat yang melejit lewat sinetron Kecil-kecil Jadi Manten, meninggal dunia di bulan September 2004, setelah sempat beberapa lama mengalami koma, seluruh penggemarnya segera mengetahui berita kematiannya. Mereka yang bersimpati kepadanya, ramai-ramai mengirim pesan pendek (sandek) atau yang lebih dikenal dengan sebutan sms (service short massage) kepada berbagai stasiun televisi swasta yang memberi kesempatan kepada pemirsanya untuk mengungkapkan bela sungkawanya secara interaktif terutama melalui tayangan acara infotainment. Demikian pula ketika Parto, anggota kelompok lawak terkenal Patrio menembakan pistol ke udara untuk mengusir wartawan yang mengejar-ngejarnya di pertengahan tahun 2004, banyak penggemar tayangan infotainment segera mengetahui berita ini dari tayangan infotainment yang banyak bersebaran di berbagai stasiun televisi, seperti Kabar-kabari, Kross Cek, Cek n Ricek dan sebagainya.

Begitu pula ketika para teroris membajak beberapa pesawat dan menabrakannya ke gedung WTC di New York tanggal 11 September 2002, ratusan juta pasang mata penduduk dunia dengan cepat segera mengetahui secara rinci, detik demi detik, bagaimana pesawat menabrak gedung WTC dan diikuti runtuhnya gedung yang menjadi ikon Amerika Serikat ini. Tatkala gempa dan gelombang tsunami menerjang Aceh, Sumatera Utara dan berbagai negara di kawasan Samudra Hindia pada tanggal 26 Desember 2004, berbagai media, terutama media televisi, segera memberitakan bencana kemanusiaan yang merenggut nyawa lebih dari seratus ribu manusia ini.

Bahkan masyarakat Indonesia lebih dahulu mengetahui tsunami yang terjadi di Thailand, yang diliput secara besar-besaran oleh media televisi nasional dengan banyak mengambil gambar dari stasiun televisi CNN daripada bencana yang lebih mengerikan dalam skala yang jaun lebih besar yang terjadi di Aceh. Kondisi ini bisa dimaklumi karena pada tanggal 26 Desember, nyaris semua stasiun televisi di Indonesia terputus kontak komunikasi dengan kru liputannya di daerah bencana, sehingga baru sehari kemudian bencana maha dahsyat yang terjadi di Aceh diketahui secara luas oleh publik, setelah gambar-gambar bencana di Aceh dirilis secara besar-besaran oleh berbagai media massa.
Berbagai realitas inilah yang oleh Marshall Mc. Luhan disebut sebagai global village, sebuah perkampungan global yang terintegrasi melalui komunikasi. Komunikasi media modern telah memberikan kesempatan kepada jutaan manusia di seluruh dunia saling berhubungan dengan nyaris seluruh tempat di muka bumi tanpa harus terbatasi lagi oleh ruang dan waktu, serta serempak juga memberi kesempatan untuk berinteraksi melalui media massa. Suatu kondisi yang nyaris serupa dengan kehidupan di desa, di mana setiap warga desa dapat saling berkomunikasi dengan mudah dalam relasi sosial yang coraknya patembayan.

Perkembangan teknologi komunikasi massa tidak dapat dipungkiri telah banyak membantu umat manusia untuk mengatasi pelbagai hambatan dalam berkomunikasi. Khalayak dapat mengetaui apa yang terjadi di seluruh dunia jauh lebih cepat, bahkan sering kali khalayk lebih dahulu mengetahui apa yang terjadi jauh di luar negeri daripada di dalam negeri. Bukti paling nyata adalah, khalayak media massa di Indonesia lebih dahulu mengetahui terjadinya tsunami di Thailand dan Sri Lanka, daripada bencana yang serupa dengan skala yang jauh lebih menakutkan di Aceh dan Sumatera Utara. Padahal Thailand jaraknya berlipat kali dengan jarak Jakarta ke Aceh. Namun ternyata media massa kita, terutama televisi, tidak begitu tanggap ketika bencana tsunami menerjang Aceh dan Sumatra Utara. Media televisi pada tanggal 26 Desember 2004 masih sibuk dengan pemberitaan hiruk pikuk Munas Partai Golkar dan kasus perceraian Adjie Massaid dengan Reza Artamevia. Alasan lain, bisa jadi karena kemampuan teknologi media televisi kita masih di bawah CNN, sehingga bencana di Thailand yang diliput CNN yang lebih dahulu disaksikan pemirsa televisi di Indonesia.

Media massa merupakan pusat dari kajian komunikasi massa. Media massa menyebarkan pesan-pesan yang mampu mempengaruhi khalayak yang mengkonsumsinya dan mencerminkan kebudayaan masyarakat, dan mampu menyediakan informasi secara simultan ke khalayak yang luas, anonim dan heterogen, membuat media bagian dari kekuatan institusional dalam masyarakat. Bahkan di kalangan media, terutama di kalangan pers, media massa dianggap sebagai pilar demokrasi keempat setelah ekskutif, legislatif dan yudikatif. Peristiwa jatuhnya kekuasaan Orde Baru menunjukan bagaimana media massa mampu menggerakan rakyat yang sudah tidak percaya lagi kepada sistem yang ada di birokrasi eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Pada masa itu, semua lembaga demokrasi baik eksekutif, legislatif dan yudikatif berada dalam kekuasaan satu tangan satu. Begitu juga pers yang lebih banyak tunduk kepada negara dibandingkan dengan pers yang berani kritis terhadap negara. Jika ada pers yang berani kritis terhadap negara, maka pembredelan menjadi matra suci negara untuk menghabisi suara kritis. Pembredelan terakhir di masa kekuasaan Orde Baru menimpa Majalah Tempo, Majalah Editor dan Tabloid Detik. Namun alih-alih pembredelan ini memperkokoh rezim, yang terjadi adalah kalangan pers tetap saja kritis dengan menerbitkan penerbitan bawah tanah, seperti melalui internet yang relatif masih baru di Indonesia saat itu lewat situs tempointeraktif dan Apa Kabar Indonesia. Media cetak bawah tanah juga diterbitkan secara sembunyi-sembunyi melalui penerbitan Independen yang dikoordinir oleh Aliansi Jurnalis Independen dan Kabar dari Pijar yang diterbitkan oleh Pusat Informasi dan Jaringan Reformasi (Pijar).

Media massa sendiri dalam kajian komunikasi massa sering dipahami sebagai perangkat-perangkat yang diorganisir untuk berkomunikasi secara terbuka dan pada situasi yang berjarak kepada khalayak luas dalam waktu yang singkat (McQuail, 2002:17). Sejarah perkembangan media massa dimulai dari media cetak dalam bentuk pamflet dan buku, kemudian muncul surat kabar dan majalah yang terbit secara teratur. Penemuan film memberi tawaran baru bagi para khalayak dalam proses konsumsi mereka terhadap media secara lebih mengasyikan. Penemuan mesin rekam dalam bentuk fonogram, kaset, dan diikuti compact disc banyak memberi alternatif hiburan terutama bagi khalayak yang menyukai musik. Seiring dengan perkembangan teknologi digital, MP3 menjadi alat rekam yang disukai banyak kalangan, karena kemampuannya menyimpan ratusan lagu dan harganya yang relatif murah. Bahkan saat ini berkembang IpoD, sebuah alat yang dapat menyimpan jutaan lagu dalam alat yang besarnya tidak lebih dari sebuah pesawat telepon genggam. Berikutnya adalah media penyiaran radio dan televisi yang semakin memanjakan khalayak, terutama televisi yang memiliki sifat audiovisual. Saat final Piala Eropa tahun 2004, para penonton dapat mengikuti pertandingan tersebut melalui televisi yang menyiarkan final antara Portugal melawan Yunani dan nyaris dalam waktu yang bersamaan dapat mengetahui kekalahan Portugal dan kemenangan kuda hitam Yunani. Berbagai pertandingan Liga Champhion juga dapat disaksikan tanpa harus datang ke stadion. Ada fenomena menarik yang terjadi di Italia, di mana Liga Italia tahun 2004-2005 jumlah penontonnya yang datang langsung ke stadion menyusut drastis. Alasan para suporter malas datang ke stadion salah satunya adalah murahnya langganan televisi kabel yang menyiarkan berbagai pertandingan Liga Italia, sedangkan tiket masuk ke stadion sangat mahal bagi mereka.

Perkembangan teknologi komunikasi di bidang elektronika, telah melahirkan teknologi internet yang semakin menjadikan dunia seolah tiada batas. Semua orang yang mempunyai kesempatan untuk menyuarakan opininya melalui internet. Situs yang menyediakan layanan website gratis seperti blogspot dan geocities dapat digunakan sebagai sarana untuk menyuarakan opini. Di masa akhir kekuasaan Orde Baru, internet telah membuktikan perannya sebagai media underground dalam melawan berbagai regulasi Orde Baru yang memasung kebebasan pers. Situs tempo interaktif, yang merupakan reinkarnasi Majalah Tempo, yang dibredel saat itu, menjadi sarana yang efektif untuk membangun opini publik.

“Media” dalam konteks ini sudah tentu akan memiliki pengertian “mediasi” karena mampu menjembatani jarak (distance) antara khalayak dan dunia. Denis McQuail dalam bukunya McQuail’s Mas Communication Theory, 4th Edition (2002) mengemukakan beberapa penanda untuk memahami pemikiran ini: Media adalah jendela yang memungkinkan kita untuk melihat fenomena yang terjadi melebihi lingkungan dekat kita, penerjemah yang membantu kita membuat perasaan mengalami, platform atau pembawa yang menyalurkan informasi, komunikasi interaktif yang meliputi umpan balik kepada khalayak, penanda yang memberi kita dengan instruksi dan petunjuk, penyaring yang menyaring bagian-bagian pengalaman dan berfokus pada lainnya, cermin yang memantulkan realitas kita kepada kita kembali, dan pembatas yang menghalangi kebenaran (McQuail, 2002 : 66). Kemudian apakah sebenarnya pengertian dari media massa yang menjadi pusat dari kajian komunikasi massa ? Sampai saat ini tidak ada definisi yang tunggal ataupun definisi yang sederhana yang mampu memberi pengertian secara komprehensif mengenai media massa.

Definisi paling sederhana dari komunikasi massa dikemukakan oleh Bittner yang mendefinisikan komunikasi massa sebagai pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang (Rakhmat, 1999 : 188). Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah apakah komunikasi massa itu pesan atau proses ? Apa juga yang membedakannya dengan komunikasi interpersonal dan komunikasi bermedia (mediated communication) ?

Dengan penjelasan yang lebih sederhana, komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa, yakni surat kabar, radio, televisi, internet dan sebagainya. Bila sistem komunikasi massa dibandingkan dengan komunikasi interpersonal, maka secara teknis ada beberapa ciri komunikasi massa menurut Elizabeth – Noelle Neuman yang membedakannya dengan komunikasi interpersonal, yaitu pertama, bersifat tidak langsung, artinya harus melalui media teknis. Kedua, bersifat satu arah (one flow communication), artinya tidak ada interaksi antarpeserta komunikasi. Ketiga, bersifat terbuka, artinya ditujukan kepada publik yang tidak terbatas dan anonim. Keempat, memiliki unsur publik yang secara geografis tersebar (Rakhmat, 1999 : 189). Namun seiring dengan kemajuan teknologi agaknya ciri kedua perlu dikaji ulang, karena dengan memakai fasilitas telepon, sms atau teleconference, khalayak dapat mengirimkan komentar mereka terhadap satu isu yang sedang dibahas di layar televisi, sebagaimana ketika Sukma Ayu meninggal, para fans yang bersimpati segera mengirim sms ke berbagai stasiun televisi yang memberi kesempatan berinteraksi melalui beragam tayangan infotainment. Selain itu, perkembangan teknologi internet semakin menjadikan media kian tidak berjarak dengan khalayaknya.

Sedangkan Georg Gerbner memberi pengertian komunikasi massa dengan sebuah definisi singkat yaitu sebagai produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang berkelanjutan serta paling luas dipunyai orang dalam masyarakat industri (Rakhmat, 1999 : 188).

Para ahli komunikasi massa mengenal dua sisi dari kajian mengenai komunikasi massa. Satu sisi menekankan relasi antara media dan masyarakat yang lebih besar dan lembaga-lembaganya. Para penganutnya tertarik pada teori yang berkaitan relasi media-masyarakat perhatian terhadap cara media ‘dipasang’ di masyarakat dan pengaruh timbal balik antara struktur sosial yang lebih besar dan media. Sisi ini dianggap sebagai sisi makro dari teori komunikasi massa.

Sisi yang kedua menekankan kepada orang-orang sebagai kelompok atau individu. Sisi ini mencerminkan relasi antara media dan khalayak. Para penganut teori dalam sisi ini tertarik pada fokus relasi media-audiens dengan memberi penekanan pengaruh kelompok dan individu dan hasil dari transaksi media. Sisi kedua ini dianggap sebagai sisi mikro dari teori komunikasi.

Model ini mengandung arti bahwa dua sisi ini adalah dua hal yang berbeda, namun pada kenyataan mereka adalah hal yang sama dilihat dari perspektif yang berbeda. Relasi antara media dan lembaga adalah mungkin hanya melalui transaksi media dengan khalayak, dan relasi media adalah tidak mungkin untuk memisahkan dari lembaga dari masyarakat di mana khalayak ini tinggal. Sehingga, model ini bukan merupakan peta proses komunikasi massa namun menggambarkan area penelitian media dan teori.

Komunikasi massa sendiri memiliki sejarah yang panjang. Pada mulanya masyarakat kuno menggunakan bahasa oral dan isyarat untuk berkomunikasi. Suku Indian menggunakan asap sebagai bahasa isyarat untuk berkomunikasi dalam jarak yang jauh, masyarakat muslim tradisional di Indonesia memakai bedug untuk mengabarkan datangnya waktu sholat dan serombongan anak remaja sering berkeliling kampung di saat Bulan Ramadhan dengan beraneka alat musik sederhana, seperti kentongan dan galon air mineral untuk membangunkan masyarakat tatkala waktu sahur datang . Namun bukan berarti di era modern ini komunikasi massa yang sederhana ini sudah hilang dari peradaban. Di pedesaan, kentongan masih digunakan untuk memanggil warga desa jika ada pertemuan di balai desa atau jika terjadi ada bencana alam. Di perkotaan, ketika Bulan Ramadhan datang, banyak anak-anak muda yang membunyikan berbagai alat musik sederhana, kentongan, galon air mineral dan sebagainya untuk membangunkan masyarakat untuk sahur.

Penemuan tekonologi komunikasi yang semakin modern, membuat teori komunikasi massa menjadi semakin signifikan dalam kehidupan manusia. Internet, komputer, satelit dan telepon genggam adalah beberapa perkakas komunikasi massa yang banyak digunakan masyarakat modern baik secara langsung maupun tidak langsung. Memang kita tidak pernah secara langsung bersinggungan dengan satelit, namun ketika kita menggunakan telepon genggam untuk berkomunikasi, secara tidak langsung kita memanfaatkan fasilitas satelit yang berada jauh di antariksa.

Dewasa ini akses internet tidak lagi terbatas pada wilayah yang terjangkau jaringan telepon, namun cukup dengan komputer, modem dan telepon genggam yang dilayani operator yang memberi fasilitas akses internet maka kita tinggal klik. Bahkan dengan PDA (Personal Digital Assistant), hanya dengan komputer mini yang sudah dilengkapi fasilitas teknologi seluler, kita dapat mengakses semua informasi via internet. Publikasi berita juga tidak perlu lagi melalui alur yang kompleks, dari peliputan sampai distribusi, namun satu orang saja sudah mampu melakukan publikasi berita melalui situs pribadi di internet. Perkembangan teknologi ini menjadikan kajian komunikasi massa semakin menarik untuk dipelajari.

Kajian komunikasi massa tentu saja selalu berhubungan dengan perkembangan komunikasi massa, karena itulah komunikasi massa menjadi kajian dari ilmu komunikasi yang paling menarik. Sebab utama yang menjadikan kajian komunikasi massa menjadi kajian yang selalu menarik adalah perkembangan media massa yang mengalami perkembangan pesat dewasa ini serta semakin tergantungnya manusia dengan keberadaan media massa. Untuk membuktikan ketergantungan kita dengan media massa silahkan mencoba hal ini. Anda di rumah saja dengan tidak membaca koran, melihat berita di televisi, mendengar berita di radio dan mengakses situs berita di internet selama satu minggu. Singkatnya selama satu minggu jangan sekalipun mengkonsumsi media massa. Setelah satu minggu hidup tanpa media massa, Anda kemudian kembali ke komunitas Anda, baik kampus, lingkungan tempat tinggal atau lingkungan kerja Anda. Apa yang terjadi ketika Anda kembali ke komunitas Anda mudah ditebak. Anda pasti akan seperti Tarzan yang baru keluar dari belantara, karena kesulitan mengimbangi pembicaraan rekan-rekan Anda, ringkasnya Anda akan dianggap kuper (kurang pergaulan), gara-gara tidak mengkonsumsi media massa selama satu minggu saja.

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home